Mataram, 22 Februari 2024 - PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat berupaya mewujudkan dekarbonisasi sebagai salah satu bentuk komitmen pencapaian Net Zero Emission (NZE) atau Nol Emisi Karbon. Hal ini ditandai dengan pencapaian pemakaian Biomassa di tahun 2023 untuk pengganti batubara (Co-Firing) di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang mencapai angka 11.015,36 Ton atau naik sebesar 87,41 persen dari tahun sebelumnya.


Pencapaian ini menandakan komitmen PLN untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) di provinsi Nusa Tenggara Barat di tahun 2050. Kolaborasi dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk dengan pemprov Nusa Tenggara Barat, salah satunya dengan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan menggunakan biomassa untuk pengganti batubara (Co-Firing) di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).


Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB, H. Sahdan ST.,MT, mengutarakan bahwa untuk berubah dari sesuatu hal yang konvensional tentunya tidak mudah. “Alhamdulillah, PLN UIW NTB ini ternyata tidak kenal lelah, terus melakukan inovasi perubahan terhadap green energy kita. Dan ternyata selama tahun 2023 kemarin itu peningkatannya cukup baik”, ujarnya. 


“Sekali lagi saya sampaikan bahwa pada prinsipnya Dinas ESDM Provinsi Nusa Tenggara Barat yang diberikan tugas untuk mengawal green energy ini adalah sangat bersyukur karena apa yang disampaikan oleh Wagub NTB di Glasgow tahun 2021 yang lalu adalah merupakan janji pemerintah daerah untuk senantiasa melakukan perubahan-perubahan green energy menjadi NZE di tahun 2050, karena ini adalah tidak mudah menurut saya, tapi ketika masyarakat NTB secara bahu membahu untuk mewujudkan ini maka kami sangat yakin kedepan bisa kita capai”, tambahnya.


“Bukan hanya PLN saja yang berjuang, tapi masyarakatpun selaku penyedia barang-barang ini (biomassa) juga saling bahu membahu, karena ini adalah bahannya ada disekitar kita dan bisa kita tanam dan bisa kita dapatkan. Contoh, bahan baku biomassa ini adalah dari bonggol jagung, bahan-bahan ini sangat melimpah”, imbuhnya lagi.


“Masyarakat NTB mungkin bertanya, kalau hanya bonggol jagung mungkin tidak selamanya tersedia, memang betul. Tapi ada juga bahan-bahan lain yang bisa meng-carry over kondisi bonggol jagung yang habis ini dengan tanaman energi, apa itu seperti gamal, akasia dan pohon-pohon lain yang punya potensi yang direkomendasikan untuk terus kita lakukan penanaman, budidaya segala macam. Ini butuh peran masyarakat semuanya. Kalau kita sudah bergerak, masyarakat, pemerintah, PLN selaku stakeholder yang menangani ini, yakin kedepan green energy ini bisa kita peroleh dengan sebaik-baiknya”, harap Sahdan. 


“Saya menyampaikan terimakasih kepada PLN, yang telah bekerja keras untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan kita bersama. Tanpa kerja keras Bapak Ibu jajaran PLN semuanya, mustahil ini bisa kita capai, karena ini tidak mudah. Tapi kalau PLN hanya ingin pada posisi aman saja, untuk apa capek-capek memikirkan satu hal yang baru, satu hal yang tidak masuk akal barangkali, tetapi karena PLN sudah serius mendengarkan aspirasi masyarakat, pemerintah untuk kita menuju green energy yang kita cita-citakan ini”, tambahnya.


“Saya sekali lagi atas nama atas nama pemerintah Provinsi NTB, selaku Kadis ESDM Provinsi NTB, menyampaikan sekali lagi terima kasih yang sebesar-besarnya. Mudah-mudahan Bapak bersama jajaran diberikan kekuatan dan semangat untuk terus memperjuangkan ini yang pada akhirnya nanti kita bisa nikmati bersama, Net Zero Emission yang kita sama-sama perjuangkan ini”, tutup beliau.


General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTB, Sudjarwo menyebutkan bahwa pemakaian Biomassa di Pulau Lombok pada tahun 2023 mencapai 8.581,14 Ton atau meningkat sebesar 103,20 persen sedangkan pemakaian Biomassa di Pulau Sumbawa mencapai 2.434,22 Ton atau meningkat sebesar 47,12 persen. Hal ini merupakan upaya dekarbonisasi menuju Net Zero Emission.


“Penggunaan Biomassa pada proses co-firing di PLTU di NTB cukup menggembirakan. Terbukti bahwa dengan pemakaian Biomassa sebesar 11.015,36 Ton selama tahun 2023, mampu menghasilkan listrik sebesar 8.267 MWh atau sebesar 128,77 persen, melampaui dari target yang diberikan PLN Pusat”, ujarnya.


“Produksi listrik dari proses co-firing Biomassa sendiri sebesar 7,21% dari produksi listrik energi baru terbarukan di provinsi NTB. Komposisi penghasil energi bersih terbesar memang masih dihasilkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH) yakni sebesar 49,56 persen dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 43,24 persen. Meskipun lebih rendah daripada PLTS, namun penggunaan Biomassa ini mampu berfungsi sebagai base load sistem kelistrikan, yakni tidak terbatas waktu penggunaan selama sumber bahan bakunya tersedia. Hal ini berbeda dengan PLTS yang bersifat intermittent atau tergantung pada paparan sinar matahari”, imbuhnya.


“Untuk meningkatkan penggunaan Biomassa, PLN tentunya tidak bisa berjalan sendiri, kami membutuhkan kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat. Terimakasih atas dukungan masyarakat NTB, bersama kita akan wujudkan Net Zero Emission untuk menghadirkan energi bersih yang berkelanjutan”, tutup Djarwo. (*)